IMPLEMENTASI PROGRAM SEKOLAH KADER PENGAWAS PARTISIPATIF (SKPP) TINGKAT MENENGAH DI BAWASLU PROVINSI SULAWESI UTARA TAHUN 2021
DOI:
https://doi.org/10.572349/seroja.v1i2.146Keywords:
Implementasi, Kebijakan, Sekolah Kader Pengawas PartisipatifAbstract
Penelitian ini berjudul Implementasi Program Sekolah Kader Pengawas Partisipatif (SKPP Tingkat Menengah di Bawaslu Provinsi Sulawesi Utara. Penelitian ini bertujuan (1) Mendeskripsikan, menganalisis dan menginterpretasikan program sekolah kader pengawas partisipatif. (2) Mendiskripsikan, menganalisis dan menginterpretasikan faktor-faktor penghambat dalam implementasi Program Sekolah Kader Pengawas Partisupatif Tingkat Menengah di Bawaslu Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2021. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis penelitian menggunakan konsep implementasi kebijakan George Edward III. Kesimpulan (1) Sekolah Kader Pengawas Partisipatif (SKPP) Tingkat Menengah adalah sarana untuk membentuk kader pengawasan partisipatif. Melalui sejumlah materi seperti pembangunan karakter, pemahaman pengawasan pemilu dan partisipasi pengawasan serta penegakan hukum pemilu sehingga berdampak pada eksistensi alumni peserta SKPP dengan ikut mengawal pemilu melalui komunitas jejaring pengawas partisipatif serta lembaga penyelenggara pemilu seperti pengawas kecamatan. Dengan kata lain, SKPP Tingkat Menengah memberi dampak positif bagi para peserta secara khusus, dan secara umum bagi pelaksanaan pengawasan pemilu di Sulawesi Utara. (2) Secara keseluruhan, implementasi kebijakan Sekolah Kader Pengawas Partisipatif berjalan dengan baik. Mulai dari persiapan hingga proses pelaksanaan. Penyelenggara, narasumber dan fasilitator adalah orang-orang yang kompeten dibidangnya. Adapun faktor penghambat implementasi SKPP Tingkat Menengah ada pada proses pelaksanaan dimana kendala teknis seperti disiplin waktu menjadi faktor dominan. Selain itu, faktor penghambat lainnya adalah sosialisasi kegiatan yang kurang optimal melalui sosial media karena hanya mampu menjangkau daerah yang mudah akses jaringan internet.


