POLITIK AGAMA DALAM PERANG SALIB: SEJARAH DAN DAMPAKNYA BAGI EROPA DAN TIMUR TENGAH
Abstract
Penelitian ini menginvestigasi politik agama selama Perang Salib, fokus pada periode akhir (1220-1291), dan menganalisis bagaimana motif agama mempengaruhi mobilisasi orang Eropa serta kompleksitas interaksi antara pemimpin Kristen dan Muslim. Metode perpustakaan digunakan dengan mengumpulkan informasi dari sumber-sumber sejarah dan analisis teks-teks historis untuk memperoleh pemahaman mendalam tentang peristiwa tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa agama berperan sentral dalam memotivasi orang Eropa untuk berperang demi merebut kembali tanah suci dari Muslim. Pada periode akhir Perang Salib, usaha untuk merebut kembali Yerusalem mencapai puncaknya di bawah kepemimpinan Frederick dari Apulia dan interaksinya dengan Sultan al-Kamil dari Mesir. Politik agama dalam Perang Salib mencerminkan ambisi politik para pemimpin Eropa dan menjadi awal dari konflik antaragama yang berkepanjangan antara Kristen dan Muslim. Pembahasan menyoroti bahwa dampak Perang Salib masih terasa hingga saat ini, mempengaruhi transformasi spiritual dan identitas Kristen di Eropa serta meninggalkan trauma kolektif dan pandangan yang kompleks terhadap Barat di Timur Tengah. Penelitian ini mengemukakan bahwa pemahaman historis diperlukan untuk mengevaluasi dampak perang terhadap masyarakat modern dan mendorong pentingnya dialog antarbudaya yang menghormati. Dengan pendekatan Teori Instrumentalisasi Agama, abstrak ini memberikan wawasan tentang bagaimana agama bukan hanya sebagai aspek spiritual tetapi juga sebagai kekuatan politik yang mempengaruhi sejarah, identitas kolektif, dan hubungan internasional dalam konteks Perang Salib dan beyond.Kata Kunci : Politik; Agama; Perang Salib; Eropa dan Timur Tengah
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2023 Nailatur Rahmadiah

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.


